PROFIL SINGKAT TGH. M. RUSLAN ZAIN

TGH. M. Ruslan Zain An Nahdy

Perkawianan H. Zainuddin dengan Hajjah Fatmah di Desa Anjani Lombok Timur pada tanggal 3 Maret 1953 di Desa Anjani Lombok Timur.[1]Dari sikian taun penantian lahir anak laki-laki yang merupakan harapan kedua orang tuanya  yang sangat menginkan kedua anak laki-laki Alhamdulillah harapan orang tuanya terkabulkan, selang beberapa hari orang tauanya memberi nama Muhammad Ruslan Zain dan ia dibesarkan di Desa Kembang Kerang. Masa kecilnya dikenal dengan anak cerdas dan jujur, hasil didikan dari kedua orang tuanya yang selalu mendidik putranya berkata jujur walaupun pahit. Kedua orang tuanya adalah orang yang terpandang di Desa Kembang Kerang. H. Zainuddin angat di segani dan di hormati oleh masyarakat Desa Kembang Kerang Daya adalah saudagar, petani dari keturunan terpandang, dan sebagai tokoh agama yang merangkap jabatan sebagai penghulu di Desa Kembang Kerang dan sebagai Pemekal (kadus), dalam kepemimpinan dikenal sangat tegas dan bijak sana dalam mengambil keputusan dan memiliki karismatik.[2] Sifat orang tuanya sebagai pemimpin kharismatik diwariskannya sejak dia masih kecil, karena dia selalu dijadikan pemimpin diantara teman-temanya. Nama pangilan sewaktu masih kecil adalah Ruslan. Sejak kecil dia dikenal sangat jujur dan cerdas, sehingga tidak mengherankan kalau ayah bunda memberi atensi khusus dan menumpahkan kecintaan serta kasih sayang yang begitu besar kepada putra semata wayangnya.

Wujud kasih sayang orang tuanya ruslan belajar al-Qur’an pada Ust. H. Mu’min di Desa Kembang Kerang Daya, melihat keseriusan putranya mempelajari al-Qur’an mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam penguasaan ilmu agama. Melihat keseriusan ruslan dalam mempelajari ilmu agama dan memasukan putranya di pendidikan formal yang disebut Sekolah Rakyat selesai dengan prestasi yang sangat memuaaskan pada tahun 1965. Adapun Sekolah Rayat tersebut sekarang sudah menjadi SDN 1 Kembang Kerang Lauq.[3]  Melihat putranya suka dengan ilmu agama, lalu sang ayah memberiakan motivasi kepada putranya belajar dan mengaji ke Pancor Bermi  Lombok Timur untuk memperdalam pengajian kitab kuning.

Satu-satunya pusat pendidikan agama di pancor saat itu merupakan pusat pendidikan agama Islam di Indonesia kawasan Timur karena memiliki Madrasah dan lembaga sebagai tempat menggembleng keperibadian santrinya menjadi kader-kader pejuang Islam. Pancor terkenal sebagai tempat lahirnya organisasi terbesar di Nusa Tenggara Barat yaitu Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikan oleh al-Maghfurulah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Disinilah Ruslan beranjak remaja mempelajari semua disiplinilmu keagamaan  seperti Tafsir, Hadits, Mantiq, Balaghah, Nahwu, Sharf, Fiqih dan berbagai disiplin ilmu umum lainnya.  Pendidikan di pancor inilah yang membawa Ruslan remaja memperoleh Futuh al-Awwal dari gurunya al-Maghfurulah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Dari guru besar inilah M. Ruslan remaja disarankan untuk belajar ke Mekah al- Mukarramah usai menamatkan studinya di  Madrasah Mu’allimin 6 tahun 1971, tepatnya di Madrasah al-Shawlatiyyah, Madrasah tertua di tanah suci Mekah.[4]

Di dukung oleh guru beliau al-Maghfurulah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid di depan orang tuanya Ruslan yang bernama H. Zainuddin merupakan penghormatan dan pengahargaan yang luar biasa, maka haltersebut tidak disia-siaka oleh orang tunya Alhamdulillah Ruslan menjalakan amanat gurunya dan orang tuanya dengan ikhlas.   Setibanya di Madrasah al-Shawlatiyah inilah, M. Ruslan Zain menimba ilmu agama dari ulama-uma terkemuka yang membuat M. Ruslan Zain tidak mau ketinggal dalam pengajian, spirit mengajinya berkobar-kobar melahap berbagai disiplin ilmu keIslaman. Selama 5 tahun mendalami dan menyelami ilmu keIslaman inilah M. Ruslan Zain tumbuh menjadi remaja yang candrung pada kajian keIslaman sehingga hasrat ini terbaca oleh orang tuanya. Karena didukung kondisi ekonomi memadai, tingkat kecerdasan yang tinggi, ketekunan dalam belajar, garis keturunan terpandang, kasih sayang serta keikhlasan kedua orang tua dan do’a restu dari guru-gurunya.[5]  memperoleh prestasi yang sangat memuaskan sehingga  berhasil dengan gemilang menyelasaikan studi di Madrasah al-Shawlatiyah. Sang walid H. M. Zainuddin menginginkan putra satu-satunya ini melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar Kairo Mesir dengan memohon izin dan restu dari guru besar al-Allamah al-Syaikh Isma’il Utsman Zain al-Yamani. Guru sekaligus pembimbing yang membentuk karakter ke’ulamaan, dari Syaikh Isma’il inilah TGH. M. Ruslan memperoleh futuh al-Akbar. Tetapi gurunya ini kurang setuju, sehingga   disarankan pulang ke Indonesia mengabdi untuk ummat dikampung halamannya Kembang Kerang pada tahun 1976. [6]

Pendirian madrasah di lingkungan Pondok Pesantren telah memperkaya khazanah lembaga pendidikan Islam dikalangan ummat Islam, karena pada masa sebelumnya masyarakat arab Islam hanya mengenal pendidikan tradisional seperti kitab dan masjid. Madrsah merupakan penjelemaan pendidikan yang memadukan kurikulum Pondok Pesantren dengan kurikulum pemerintah dan memiliki legalitas yang sama dengan pendidkan umum lainya seperti, SD, SMP, SMU dan SMK (by Kaharuddin)

Referensi

Wawancara dengan Utaz H. Abdul Hayyi, Bendahara Pondok Pesantren Darul Kamal dan Kepala MTs NW 1 Kembang Kerang, 27 Mei 2018

Wawancara dengan Utaz H. Abdul Hayyi, bendahara Pondok Pesantren Darul Kamal dan Kepala MTs NW 1 Kembang Kerang, 27 Mei 2018

Wawancara dengan Utaz H. Makruf Haris, Tokoh Masyarakat Desa Kembang Kerang Daya, 29 Mei 2018

Wawancar dengan Utaz H. Makruf Haris, Tokoh Masyarakat Kembang Kerang, 29 Mei 2018

Wawancara dengan Utas H. Abdul Hayyi, Bendahara Pondok Pesantren Darul Kamal dan Kepala MTs NW 1 Kembang Kerang, 27 Mei 2018

Wawancar dengan Utaz H. Makruf Haris, Tokoh Masyarakat Kembang Kerang Daya, 29 Mei 2018


Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *